minyak dan lemak merupakan campuran gliserida dengan susunan asam-asam lemak yang tidak sama. Sifat–sifat fisik dan kimia trigliserida ditentukan oleh asam lemak penyusunnya, karena asam lemak merupakan bagian terbesar berat molekul minyak. Minyak dan Lemak adalah salah satu kelompok yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat dialam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar


KAJIAN MUTU LEMAK MINYAK JELANTAH BERDASARKAN
SIFAT KIMIA





Defenisi lemak minyak:
Menurut (Meter, 1973),  minyak dan lemak merupakan campuran gliserida dengan susunan asam-asam lemak yang tidak sama. Sifat–sifat fisik dan  kimia trigliserida ditentukan oleh asam lemak penyusunnya, karena asam lemak merupakan bagian terbesar berat molekul minyak.  Minyak dan Lemak adalah salah satu kelompok yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat dialam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, contohnya dietil eter, kloroform dan hidrokarbon lainnya. Lemak dan Minyak dapat larut dalam pelarut yang disebut di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut (Herlina, 2009).
Minyak jelantah adalah limbah minyak yang telah digunakan beberapa kali penggorengan. Minyak jelantah ini berasal dari berbagai jenis minyak seperti minyak sayur, minyak jagung. Namun secara umum orang banyak menggunakan minyak goreng dari kelapa sawit.

A.           Faktor yang Mempengaruhi Mutu Minyak Jelantah Berdasarkan Sifat Kimia
Secara Kimia, minyak jelantah mengandung senyawa karsinogenik.  Karsinogenik adalah sifat mengendap dan merusak terutama pada organ paru-paru karena zat-zat yang terdapat pada rokok. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan mutu minyak jelntah berdasarkan sifat kimia adalah sebagai berikut:
ü   Asam Lemak
asam lemak yang memiliki semakin banayk ikatan rangkap akan semakin reaktif terhadap oksigen sehingga cenderung mudah teroksidasi.semntara asam lemak yang rantainya dominan mengandung ikatan tunggal cenderung lebih mudah terhidrolisis. Kedua proses kerusakan tersebut dapat menurunkan mutu atau kualitas minyak.

ü   Bilangan Peroksida
Bilangan peroksida dinyatakan sebagai banyaknya miligrek O2 dalam  setiap 100 gram minyak.  Peroksida ini dapat ditentukan dengan metode iodometri (Ketaren, 2012). Didalam minyak jelntah juga terdapat material tak berguna yaitu senyawa peroksida. Senyawa peroksida ini dapat menyebabkan meningkatnya resiko terhadap beberapa penyakit, antar lain karsinoma. Karsinoma adalah segala jenis tu,or (kanker) yang tumbuh dari sel di lapisan permukaan penutup atau membran pembatas dari organ. Faktor-faktor yang mempercepat pembentukan peroksida adalah Proses pembentukan peroksida dipercepat oleh adanya cahaya, pemanasan suasana asam, pelembaban udara dan katalis. Beberapa jenis logam atau garam-garamnya yang terdapat dalam minyak merupakan katalisator pada proses oksidasi misalnya logam, tembaga, besi, nikel, sedangkan aluminium kecil pengaruhnya terhadap proses oksidasi. Proses oksidasi juga terjadi karena adanya mikroorganisme.

ü   Kadar Air
Kadar air minyak jelantah yang ditetapkan SNI adlah 0,10-0,30%. Jika tidak memenuhi SNI maka minyak jelantah tersebut telah rusak dan tidak layak digunakan lagi karena dapat berisiko bagi kesehatan. Tingginya kadar air dalam minyak dapat dapat diperoleh dari bahan makanan yang digoreng, proses saat penggorengan, atau kelembapan udara saat penyimpanan. Minyak jelantah banyak mengandung air sehingga tingkat hidrolisisnya tinggi  dan di dalamnya terbentuk senyawa polimer dan gugus karbonilnya sejalan dengan bertambahnya waktu pemanasan.

B.            Metode Pemurnian Minyak Jelantah
Minyak goreng jelantah yang dibiarkan begitu saja dapat mengakibatkan kandungan mutunya berdasarkan sifat kimia menurun atau tidak layak digunakan karena disebabkan oleh bialangan perosida, asam lemak, dan kadar air. Namun minyak jelantah ini juga dapat di murnikan agar bisa dipakai yaitu dengan menggunakan metode peremajaan oleh tanah diatomit terkalsinasi. Sudah dibuktikan bahwa dengan menggunakan metode tersebut mengalami kenaikan kualitas minyak dan mengalami penurunan kadar air, kadar kotoran, bilangan peroksida, dan bilangan asam.

C.           Faktor Penentu Kualitas Minyak
Kadar air merupakan penentu kualitas minyak. Meskipun kadar asam lemak bebas dalam minyak rendah dan bilangan peroksida rendah, bila kadar air tinggi maka minyak mengandung banyak air dan tingkat hidrolisisnya tinggi sehingga minyak menjadi mudah terurai. Bilangan peroksida yang tinggi disebabkan oleh minyak yang teroksidasi dan adanya pemanasan yang tinggi pula. Pemakaian minyak berulang-ulang menyebabkan bilangan peroksida meningkat. Kadar asam lemak bebas meningkat disebabkan karena trigliserida terurai menjadi asam lemaknya dan gliserol. Minyak mengalami peruraian. Antara warna hitam dan warna coklat pada minyak bekas pakai memang dapat diindikasilkan tingkat kerusakannya tetapi tidak mencerminkan secara mutlak bahwa semakin tua warnanya semakin rusak keadaannya.


REFERENSI:
Asri sulisjotowati suroso, 2013. Kualitas Minyak Goreng Habis Pakai Ditinjau dari Bilangan Peroksida, Bilangan Asam, dan Kadar Air.Jurnal Kefarmasian Indonesia. vol.3.2.2013;77-88. (Diakses pada Tanggal 27 April 2020).
Fandhi Adi Wardoyo, 2018. Penurunan Bilangan Peroksida pad minyak Jelantah Menggunakan Serbuk Daun Pepaya. Jurnal Pangan dan Gizi 8 (2):82-90, Oktober 2018. (Diakses pada Tanggal 27 April 2020).


Komentar